Setiap Anak Adalah Istimewa, Sebagaimana ‘Santan yang Sama & Rasa yang Beda ‘.

CAMELIA INDAH, S.Ag.

Suatu hari, sepasang wali murid menemui saya selaku Pembimbing Akademik dari anaknya.
Tercetus curhatan dari orang tua tentang si anak, “Bu guru.. kami ini kurang apa berusaha untuk menjadikan anak saya yang ini ni supaya bisa berprestasi kayak kakaknya? Anak kami yang pertama, kakaknya anak ini, yang dulu sekolah disini juga kan Anak Hebat punya prestasi sangat bagus yang membanggakan kami orang tuanya. Sedangkan anak kami yang ini, anak nomor dua, kok beda jauh dari kakaknya. Anak kami yang kedua ini ni malah banyak bikin kenakalan di sekolah.”
Tak bisa dinafikan memang, tak sedikit orang tua yang membanding-bandingkan peringkat dan prestasi anak-anak. Menuntut kesamaan tingkatan dan peraihan prestasi pada kesemua anak-anak. Bahkan mirisnya, anak jadi dilabelisasi ‘Anak Tidak Berhasil’ untuk setiap prestasi buruk yang tolak ukurnya hanya ditautkan dengan sederet angka-angka raport semata.
Padahal, Einstein (manusia yang dianggap paling jenius sepanjang sejarah dunia) menyatakan, “Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.” (Semua orang itu jenius. Tapi jika anda menilai seekor ikan dengan kemampuannya memanjat pohon, dia akan menjalani hidupnya dengan percaya bahwa dirinya itu bodoh)
So, saat itu saya memberikan jawaban kepada sepasang Wali Murid tersebut, “Ibu… menurut ibu nih ya, apakah kita jika memasak menggunakan santan selalu harus sama rasanya, antara jika kita gunakan santan untuk masak kuah opor ayam dan santan untuk masak kolak pisang?”
Si ibu serta merta menjawab, “Tidak, untuk masak opor rasanya harus asin, sedangkan untuk masak kolak rasanya harus manis.”
Lalu saya lanjutkan pertanyaan “Jadi tidak harus sama ya rasanya? Padahal sama-sama santan?”
Tentu jawaban si ibu “Tidak harus sama”
Dari analogi ‘Santan yang Sama & Rasa yang Beda’ ini kemudian kami berdiskusi bahwa setiap anak memiliki karakteristik berbeda-beda. Kenapa tidak harus sama? Karena fitrahnya manusia terlahir dengan kebermanfaatan berbeda-beda.
Akan ada salah satu dari anak-anak kita kelak di saat dewasa menjadi atlit hebat, yang tidak harus punya prestasi bagus di pelajaran matematika.
Akan ada salah satu dari anak-anak kita kelak di saat dewasa menjadi dokter pinter, yang tidak harus punya prestasi bagus di pelajaran kesenian.
Akan ada salah satu dari anak-anak kita kelak di saat dewasa menjadi artis ternama, yang tidak harus punya prestasi bagus di pelajaran IPA.
Jadi, tidak ada satu pun anak yang boleh kita kasi label ‘bodoh’, karena setiap mereka adalah jenius, kelak dewasa akan menjadi sosok istimewa dengan kelebihan mereka masing-masing.
Setiap anak terlahir istimewa, sebagaimana Santan yang Sama & Rasa yang Beda, mereka terlahir akan menjadi dewasa dengan memiliki kemampuan lebih di bidang-bidang yang tidak sama, dan memang harus tidak sama demi keseimbangan guna dan fungsi yang berbeda.
Setiap anak adalah istimewa, sebagaimana santan yang sama dan rasa yang beda, mereka memiliki kebermanfaatannya masing-masing.

Bagikan :

Karya Tulis Guru Lainnya

Avatar photo
Ngegame Saat Belajar? Why Not?!
Avatar photo
KEJAR TUNTAS PEMBELAJARAN BERKUALITAS
Avatar photo
Membuat Diorama Pembelajaran, Jadi Kenangan Men...
Avatar photo
PUASA YANG TEPAT BUAT HIDUP SEHAT
Avatar photo
Keindahan Kebersamaan Dalam Ketidaksamaan

Website Sekolah

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman

Hubungi kami di : +62 895-4141-74225

Kirim email ke kami[email protected]

Jendela Informasi Sekolah yang mudah dan menyenangkan, Membaca Buku, Belajar dan Melihat Informasi Sekolah